Beranda Mau Tau Apa Jadinya Kita, Kalau Tidak Pernah Berguru

Apa Jadinya Kita, Kalau Tidak Pernah Berguru

219
0
BERBAGI

Oleh: Mila Arizah, S.Pd, M.Pd
Dosen Bahasa Inggris FKIP Universitas Baturaja

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa…

Itulah lagu/ hymne yang sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan kita. Syairnya sedikit tetapi mempunyai makna luas yang tak terbatas. Apa jadinya jika kita tidak pernah berguru? Apa jadinya jika kita tidak pernah mengenal guru.

Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun kelompok, baik di sekolah atau diluar luar sekolah.

Ini berarti bahwa seorang bisa dikatakan menjadi guru minimal harus memiliki dasar-dasar kompetensi dan kemampuan dalam menjalankan tugas.

Dan kompetensi ini merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung jawab terhadap murid-murid yang di asuhnya, sehingga tugasnya sebagai seorang pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Pengertian guru seperti yang diketengahkan diatas, menjadikan sosok guru tidak hanya berarti figur yang berdiri di depan kelas dalam suatu lembaga, tetapi juga mereka yang melakukan fungsi mengajar meskipun tidak berada di dalam gedung sekolah.

Mereka yang mengajar anak-anak jalanan juga berhak mendapat predikat sebagai guru meskipun mereka melaksanakan tugas mengajarnya di bawah kolong jembatan.

Mereka yang mengajar di lingkungan pemasyarakatan juga berpredikat sebagai guru meskipun berada di dalam penjara. Predikat guru juga berhak disandang oleh mereka yang mengajar anak-anak dengan berkebutuhan khusus.

Dalam pandangan masyarakat sekarang, guru belum merupakan profesi yang profesional jika hanya mampu membuat murid membaca, menulis dan berhitung, atau mendapat nilai tinggi, naik kelas dan lulus ujian.

Masyarakat modern menganggap kompetensi guru belum lengkap jika hanya dilihat dari keahlian dan ketrampilan yang dimiliki melainkan juga dari orientasi guru terhadap perubahan dan inovasi.

Bagi masyarakat modern, keberadaan guru yang mandiri, kreatif dan inovatif merupakan salah satu aspek penting untuk membangun kehidupan bangsa.

Banyak ahli berpendapat bahwa keberhasilan negara Asia Timur seperti Cina, Korea Selatan dan Jepang muncul karena didukung oleh penduduk yang terdidik sebagai hasil sentuhan manusiawi seorang guru.

Salah satu bangsa modern yang menghargai profesi guru adalah bangsa Jepang. Bangsa Jepang menyadari bahwa guru yang bermutu merupakan kunci keberhasilan pembangunan untuk membangun SDM yang unggul, bermartabat dan memiliki daya saing. Keunggulan mereka adalah terus maju untuk mencapai yang terbaik dan memperbaiki yang terpuruk.

Di negara kita, guru yang memiliki keahlian dan harus diakui oleh negara masih langka. Walaupun sudah sejak puluhan tahun disiapkan, namun hasilnya masih belum nampak secara nyata.
Ini disebabkan karena masih cukup banyak guru yang belum memiliki konsep diri yang baik, tidak tepat menyandang predikat sebagai guru, dan mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan keahliannya.

Hal tersebut karena kemandirian guru belum nampak secara nyata, yaitu sebagian guru belum mampu melihat konsep dirinya, ide dirinya, dan realita dirinya. Tipe guru seperti ini mustahil dapat menciptakan suasana kegiatan pembelajaran aktif.

Pemerintah pada sejumlah negara maju memberi gaji yang tinggi terhadap profesi guru. Perubahan yang inovatif, baik dalam bentuk ide dan karya nyata banyak dihasilkan oleh pemikiran cemerlang seorang guru. Di negara maju banyak ide guru diadopsi, diadaptasi menjadi inspirasi kemajuan perusahaan dan industri besar.
Namun, hal ini sangat bertolak belakang dengan keberadaan profesi guru di negara kita. Paradigma tentang guru yang berkembang di tengah masyarakat bahkan oleh sebagian guru itu sendiri bahwa yang lebih dahulu harus ditingkatkan adalah gaji guru.

Jika gaji guru tinggi dipahami bahwa secara otomatis mutu, komitmen dan tanggung jawab guru juga akan tinggi. Tuntutan yang sudah lama menggaung ini sulit dipenuhi oleh pemerintah dengan alasan klasik bahwa keuangan negara sangat terbatas.

Konsep berpikir seperti ini telah melemahkan posisi bargaining guru. Akibatnya, guru selalu setia menjadi pelaksana pembaruan yang datang dari pusat kekuasaan, dalam arti kata guru selalu menjadi korban dari political will pemerintah yang tidak berpihak pada nasib guru. Akan tetapi, kesadaran guru menjadi korban kadangkala terlambat muncul bahkan tidak disadari oleh guru, karena sebagian “rasa korban” itu adalah kenikmatan.

Guru merupakan profesi yang berdedikasi di hati dan pikiran murid. Guru yang benar-benar menghayati profesinya, ia bekerja bukan karena pemasukannya, tapi karena pengeluarannya, yaitu setiap hari ia berupaya mengenali, memahami dan mendidik anak dalam perbedaan dengan motivasi baru, ide baru dan cara pandang baru hingga anak bertumbuh kembang baik, dewasa dalam berpikir dan sukses dalam perjalanan hidupnya. Dalam banyak hal guru adalah orang dewasa. Kehadirannya entah berada di belakang, di tengah, atau di depan murid bukan untuk mendapatkan pengakuan dan atau penghargaan, tetapi memberi pencerahan, pengharapan dan kehidupan kepada murid agar berkualitas sebagai syarat untuk mencapai keunggulan dikemudian hari.

Anak yang sadar, insaf dan sukses akan mengingat semua yang baik dilakukan oleh guru dan akan mengenang sebagai pengalaman berharga dan indah dalam seluruh hidupnya.

Mungkin butuh waktu bertahun-tahun bagi murid yang telah “selamat” untuk kembali dan berterima kasih kepada guru. Saat mereka datang melakukannya, itu merupakan hadiah yang terindah bagi guru.

Di zaman yang mengutamakan kualitas ini, keunggulan hanya bisa diraih dan dinikmati oleh guru yang bertipe pemenang, bukan oleh guru pengeluh dan guru pemalas. Siapa lagi yang harus memperbaiki citra dan profesi yang terus terpuruk kalau bukan dari guru itu sendiri.

Masyarakat memiliki harapan yang tinggi agar guru pengeluh dan guru pemalas kembali ke tuntutan profesi yang benar walaupun hanya dengan rasa terima kasih yang sedikit atas dedikasi dan jasa yang besar, bahwa tanpa guru tak ada profesi yang lain.

Selamat hari Guru buat semua rekan guru, tanpamu apa jadinya aku, kamu dan kita. Kami bahagia menjadi bagian dari pencetak dan arsitek jiwa manusia, semoga apa yang kita laksanakan sekarang akan menjadi ladang amal kita di dunia dan akhirat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here